Berawal dari keresahan 2 pendiri Ayosablon di tahun 2013 dalam mencari sumber penghasilan yang notabene pada saat itu masih sebagai pelajar mahasiswa di Universitas berbeda. Dengan modal minim memberanikan diri untuk membeli peralatan sablon sebagai modal awal untuk belajar sablon. Bermodalkan tutorial sablon di Youtube, mencoba untuk mencetak 1 kaos sendiri dengan banyak kekurangan pada saat itu karena minimnya ilmu.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka mendapat pesanan kaos pertama yang jumlahnya lumayan banyak, sehingga semakin bersemangat untuk berdikari membangun usaha sendiri pada saat itu. Lalu, berlanjut ke pesanan-pesanan kaos lainnya, namun sayangnya masih belum mencapai profit yang ditargetkan dan akhirnya sempat menyurutkan langkah usaha para pendiri Ayosablon. Salah satu pendiri memilih hengkang dan bekerja di Perbankan sebagai Admin Bank. Sementara pendiri Ayosablon yang masih bertahan tetap menjalankan usahanya dengan keterbatasan yang dimilikinya.
1 Tahun berjalan, usaha yang dijalankan masih belum membuahkan hasil. Kemudian salah satu pendiri Ayosablon yang sebelumnya memilih hengkang memutuskan untuk terjun kembali ke bisnis yang sebelumnya dibangun bersama dan memilih resign dari Bank. Lalu, sebuah ide muncul dari seorang teman untuk membuat produk kaos Islami atau kaos dakwah, di mana ketika itu gelombang hijrah baru mulai muncul dan brand kaos Islami belum sebanyak saat ini. Tak pikir panjang, mereka langsung mengambil kesempatan itu dan mendirikan sebuah Brand bernama Jenriv Moslem Wear. Berbagai rencana pun dipersiapkan untuk membuat produk yang bernilai mulai dari kualitas bahan, jahit, sablon, desain dan packaging. Karena dalam dunia clothing, orang menilai suatu brand dengan pengalaman yang diterimanya saat memiliki produk tersebut. Dan terciptalah 6 produk kaos pertama mereka bertema Islami berjumlah 72 pcs kaos.
Hanya mengandalkan akun Instagram dan Whatsapp, mereka berhasil menjual habis 72 pcs dalam 1 bulan dan membuat mereka memutuskan untuk fokus menjalankan brand dakwah tersebut dan tetap menerima pesanan sablon selama beberapa tahun. 3 Tahun berjalan brand Jenriv Moslem Wear sudah memiliki banyak reseller yang bahkan telah sampai luar negeri dengan reseller di 3 negara berbeda. Tak sampai di situ, Jenriv Moslem Wear juga rutin mengikuti beberapa event besar di Jakarta salah satunya Jakcloth dan Hijrafest.
Memasuki tahun 2020, pandemi Covid-19 melanda hingga menyebabkan menurunnya omset bisnis mereka. Berbagai langkah diambil untuk mempertahankan bisnis, mulai dari diskon besar-besaran, mengajukan pinjaman modal serta meminimalisir biaya operasional. 2 Tahun berlalu pandemi masih belum reda, bisnis sablon dan clothing juga masih belum membaik. Lalu salah seorang teman dengan kebaikannya menawarkan untuk belajar membuat Web dan SEO, dan dengan senang hati mereka menerima tawaran tersebut dengan harapan bisa membuka peluang baru melakukan penjualan melalui Web. Daann… tercetuslah sebuah nama yaitu Ayosablon.com untuk nama Web mereka yang sesuai dengan bisnis yang mereka jalankan.
